Pengalaman Menangkar Burung Kenari

Pengalaman adalah guru yang terbaik, mungkin inilah yang terjadi saat ini. Saya mencoba menangkarkan burung kenari untuk pertama kalinya. Sedangkan pengetahuan cara- cara menangkar burung kenari di dapat dari pencarian di mesin pencari google, dan memperoleh informasi yang komplit berhubungan dengan faktor kesuksesan beternak kenari. Tetapi ternyata, saya mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Sungguh sangat menyenangkan dan mengharukan, usaha saya menangkarkan kenari untuk pertama kalinya membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Dari 5 telor yang dierami selama 14 hari, ternyata menetas semuanya ( terhitung sampai h+5 ). Hari- hari berjalan, anakan kenari tumbuh sehat karena asupan makanan dari induknya sangat tersedia, berupa kuning telor, daun sawi putih, dan canary seed.

Pada H+10( setelah menetas), mulai timbul permasalahan. Karena jarak menetas yang tidak bersamaan, berakibat pada pertumbuhan yang tidak seragam. Anakan kenari yang paling kecil tergencet oleh anakan- anakan yang lain yang lebih besar. Kemungkinan karena over kapasitas dan ukuran sarang yang kecil menjadi penyebabnya.

Berlanjut sampai dengan H+15, saya sangat terkejut setelah melihat ke sarang. Ternyata ada 1 anakan lagi yang mati, padahal beberapa jam sebelumnya terlihat induknya memberikan lolohannya. Kondisi anakan saat itu gemuk- gemuk dan sehat- sehat saja. Keterkejutan ini masih berlanjut pada dua hari kemudian, kali ini dua anakan kenari sekaligus " Mati ''. Hingga tinggal satu anakan kenari yang paling besar dapat bertahan hidup.

Frustasi, karena kegembiraan itu berbalik menjadi kesedihan, tetapi kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga. Dengan kejadian ini pula yang akhirnya membuat saya dapat berbagi pengalaman melalui artikel ini.

Ada beberapa penyebab yang dapat saya simpulkan dari kejadian ini.

1. Ukuran sarang yang terlalu kecil, jika mengingat indukan yang memiliki kemampuan produksi yang maksimal.
2. Sarang menjadi cepat kotor karena kotoran yang dihasilkan, berupa kotoran padat dan kotoran cair yang bercampur dan mengendap di dasar sarang. Akibatnya, kondisi sarang menjadi lembab dan berbau yang memungkinkan berkembangnya bibit- bibit penyakit.
3. Indukan menjadi kelelahan, sakit, stress karena banyaknya anakan yang harus diloloh. Akibatnya, jarak waktu untuk meloloh menjadi tidak beraturan.
4. Insting alamiah indukan timbul kembali disaat masih meloloh anak- anaknya, yaitu kawin lagi dan kemudian bertelor lagi.

Dari kejadian- kejadian ini, kemudian saya memutuskan untuk memisah anakan yang tersisa dari induknya. Dengan satu resiko, yaitu meloloh sendiri secara manual atau melakukan hand-feeding.

Demikian, sedikit pengalaman menangkar burung kenari yang ternyata menjadi pelajaran yang sangat berharga sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana dengan anda.......?.

No comments:

Post a Comment